Supplier Banyak, Harga Beda-Beda: Cara Bisnis F&B Mengontrol Biaya Pengadaan

Supplier Banyak, Harga Beda-Beda: Cara Bisnis F&B Mengontrol Biaya Pengadaan

Harga bahan baku naik sedikit.

Ongkos kirim berubah.

Ada supplier yang minimum order-nya cukup tinggi.

Lalu karena stok mendadak habis, tim akhirnya membeli dari supplier lain dengan harga yang lebih mahal.

Kalau kejadian seperti ini hanya sekali, mungkin tidak terasa.

Tapi kalau terjadi berulang kali, biaya pengadaan bisa perlahan menggerus margin bisnis F&B tanpa benar-benar terlihat di laporan harian.

Apalagi ketika bisnis sudah menggunakan beberapa supplier sekaligus. Satu supplier untuk frozen food, satu untuk dairy, satu untuk sauce, supplier lain untuk beverages, dan seterusnya.

Sekilas, punya banyak supplier memang memberikan banyak pilihan.

Namun semakin banyak jalur pembelian, semakin banyak juga hal yang harus dikontrol.

Jadi, bagaimana cara bisnis F&B mengontrol biaya pengadaan tanpa sekadar mencari supplier dengan harga paling murah?

Biaya Pengadaan Bukan Cuma Harga Produk

Ini bagian yang sering luput.

Ketika membandingkan supplier, biasanya perhatian pertama langsung tertuju pada harga.

Misalnya:

Supplier A: Rp50.000
Supplier B: Rp48.000

Secara sekilas, Supplier B terlihat lebih murah.

Tapi bagaimana kalau Supplier B membutuhkan minimum order Rp2 juta, sementara kebutuhan aktual bisnis hanya Rp800 ribu?

Atau ternyata biaya pengirimannya lebih tinggi?

Atau supplier tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk mengirim?

Atau produknya sering kosong sehingga bisnis harus membeli dari supplier lain ketika sedang membutuhkan?

Kalau semua faktor tersebut dihitung, selisih Rp2.000 tadi belum tentu benar-benar menjadi penghematan.

Karena itu, bisnis F&B sebaiknya tidak hanya melihat harga beli, tetapi menghitung total biaya pengadaan.

Apa Saja yang Masuk ke Biaya Pengadaan?

Secara sederhana, biaya pengadaan bisa dipengaruhi oleh beberapa komponen:

  • Harga produk
  • Ongkos kirim
  • Minimum order
  • Frekuensi pembelian
  • Biaya pembelian darurat
  • Waktu yang digunakan untuk proses pemesanan
  • Risiko produk tidak tersedia
  • Biaya penyimpanan
  • Potensi produk rusak atau expired

Artinya, supplier dengan harga produk paling murah belum tentu menjadi pilihan dengan biaya operasional paling rendah.

Misalnya bisnis membeli produk seharga Rp100.000, tetapi harus melakukan pembelian darurat beberapa kali dalam sebulan karena supplier tidak selalu memiliki stok.

Sementara supplier lain menjualnya Rp103.000 tetapi produknya lebih konsisten tersedia dan pengirimannya lebih mudah dijadwalkan.

Selisih harga tersebut perlu dilihat bersama seluruh biaya dan risiko yang menyertainya.

Kenapa Terlalu Banyak Supplier Bisa Membuat Biaya Sulit Dikontrol?

Menggunakan beberapa supplier bukan berarti salah.

Dalam kondisi tertentu, diversifikasi supplier justru dibutuhkan.

Masalahnya muncul ketika bisnis menggunakan terlalu banyak supplier tanpa sistem yang jelas.

Bayangkan satu restoran memiliki 20–30 supplier.

Setiap supplier memiliki:

  • Harga berbeda
  • Minimum order berbeda
  • Jadwal pengiriman berbeda
  • Metode pembayaran berbeda
  • Kontak berbeda
  • Invoice berbeda
  • Ketentuan berbeda

Tim procurement atau operasional akhirnya menghabiskan banyak waktu hanya untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

Belum lagi ketika harga berubah.

Tim harus kembali mengecek satu per satu untuk mengetahui apakah harga yang dibayar masih masuk akal.

Di titik tertentu, persoalannya bukan lagi “supplier mana yang murah?”

Tetapi:

“Bagaimana cara membuat proses pengadaan tetap efisien ketika kebutuhan bisnis semakin banyak?”

Mulai dengan Mengelompokkan Kebutuhan

Sebelum mengevaluasi supplier, bisnis bisa mulai dengan mengelompokkan produk berdasarkan jenis kebutuhannya.

Misalnya:

Frozen Food

Produk yang digunakan untuk kebutuhan menu dan memiliki pola penggunaan tertentu.

Sauce & Condiments

Saus, seasoning, dressing, atau produk pelengkap lainnya.

Dairy

Susu, butter, cheese, cream, dan produk sejenis.

Beverages

Produk minuman untuk kebutuhan restoran, kafe, hotel, maupun usaha F&B lainnya.

Kitchen & Operational Needs

Berbagai kebutuhan dapur dan operasional yang digunakan untuk menunjang aktivitas bisnis.

Dengan pengelompokan seperti ini, bisnis bisa melihat supplier mana yang sebenarnya memenuhi kategori yang sama.

Dari sini akan lebih mudah ditemukan potensi konsolidasi.

Baca juga: Harga Bahan Baku F&B di Bali Berubah, Bagaimana Bisnis Menjaga Margin Tetap Sehat? 

Supplier Consolidation: Mengurangi Jalur Pembelian

Supplier consolidation adalah pendekatan untuk mengurangi jumlah supplier dengan menggabungkan lebih banyak kebutuhan ke supplier yang mampu memenuhi beberapa kategori sekaligus.

Contohnya:

Sebelumnya:

Frozen → Supplier A
Sauce → Supplier B
Dairy → Supplier C
Beverages → Supplier D

Kemudian setelah dievaluasi:

Frozen + Sauce + Dairy + Beverages → Supplier utama

Tentu tidak semua produk harus dipindahkan ke satu supplier.

Ada produk tertentu yang memang membutuhkan supplier khusus.

Tetapi jika satu supplier horeca Bali mampu menyediakan berbagai kebutuhan yang relevan dengan bisnis, konsolidasi bisa membantu menyederhanakan proses pengadaan.

Bukan hanya jumlah supplier yang berkurang.

Proses order, komunikasi, pengiriman, dan administrasi juga bisa menjadi lebih sederhana.

Tapi Jangan Sampai Semua Bergantung pada Satu Supplier

Di sisi lain, konsolidasi bukan berarti bisnis harus bergantung sepenuhnya pada satu supplier.

Ini penting.

Jika seluruh kebutuhan berasal dari satu sumber dan supplier tersebut mengalami masalah, operasional bisnis juga bisa ikut terdampak.

Karena itu, pendekatan yang lebih sehat adalah menentukan:

Supplier utama + supplier alternatif.

Supplier utama menangani sebagian besar kebutuhan yang bisa dipenuhi secara konsisten.

Supplier alternatif tetap tersedia untuk produk atau kondisi tertentu.

Dengan begitu, bisnis mendapatkan efisiensi tanpa menghilangkan fleksibilitas.

Hitung Biaya Pengadaan Berdasarkan Frekuensi

Salah satu sumber biaya yang sering tidak terasa adalah frekuensi pembelian.

Misalnya sebuah restoran membutuhkan produk tertentu senilai Rp1 juta.

Bisnis A melakukan pembelian 1 kali per minggu.

Bisnis B melakukan pembelian 3 kali per minggu karena tidak memiliki perencanaan stok yang cukup.

Secara nilai produk mungkin sama.

Tetapi proses pengadaannya berbeda.

Semakin sering melakukan order, semakin banyak aktivitas yang harus dilakukan:

  • Cek stok
  • Membuat order
  • Konfirmasi supplier
  • Menunggu pengiriman
  • Menerima barang
  • Memeriksa barang
  • Mengurus administrasi

Kalau proses tersebut terjadi berkali-kali dalam seminggu untuk banyak produk, waktu operasional yang terpakai juga semakin besar.

Karena itu, mengatur jadwal pembelian dapat membantu membuat proses procurement lebih efisien.

Minimum Order Juga Perlu Dihitung

Harga grosir sering terlihat menarik karena menawarkan harga lebih rendah ketika membeli dalam jumlah tertentu.

Namun bisnis perlu bertanya:

“Apakah jumlah tersebut memang akan terpakai?”

Misalnya supplier memberikan harga lebih murah jika membeli 20 karton.

Jika bisnis hanya membutuhkan 8 karton dalam periode tersebut, membeli 20 karton mungkin justru membuat:

  • Ruang penyimpanan lebih penuh
  • Modal lebih banyak tertahan
  • Risiko produk tidak terpakai meningkat
  • Potensi expired atau kerusakan bertambah

Diskon bukan otomatis berarti hemat.

Penghematan baru benar-benar terasa ketika barang yang dibeli memang dibutuhkan dan dapat digunakan secara efektif.

Baca juga: Supplier F&B Bali Bukan Cuma Soal Harga: 5 Hal yang Wajib Dicek Sebelum Memilih Supplier

Jangan Abaikan Pembelian Darurat

Ini salah satu biaya yang sering muncul karena perencanaan supply kurang rapi.

Misalnya:

Stok habis hari ini.

Supplier utama baru bisa mengirim dua hari lagi.

Operasional tetap harus berjalan.

Akhirnya tim membeli dari supplier lain dengan harga lebih tinggi karena membutuhkan produk tersebut segera.

Satu transaksi mungkin terlihat kecil.

Tetapi jika pembelian darurat terjadi setiap minggu, nilainya bisa cukup besar dalam satu bulan.

Karena itu, bisnis perlu mengetahui produk apa saja yang termasuk critical stock.

Produk tersebut harus mendapatkan perhatian lebih dalam sistem inventory.

Dengan mengetahui kebutuhan rata-rata, lead time, dan safety stock, kemungkinan pembelian mendadak dapat dikurangi.

Evaluasi Supplier Jangan Hanya Setahun Sekali

Harga supplier bisa berubah.

Kebutuhan bisnis juga berubah.

Supplier yang cocok ketika bisnis masih kecil belum tentu memiliki sistem yang sesuai ketika volume pembelian meningkat.

Karena itu, supplier sebaiknya dievaluasi secara berkala.

Beberapa indikator yang bisa diperiksa:

FaktorPertanyaan
HargaApakah harga masih kompetitif?
KetersediaanApakah produk sering kosong?
PengirimanApakah pesanan datang sesuai jadwal?
ResponsSeberapa cepat supplier merespons?
MOQApakah minimum order masih sesuai kebutuhan?
ProdukApakah pilihan produk cukup relevan?
FleksibilitasBagaimana ketika kebutuhan berubah?
AdministrasiApakah proses order dan pembayaran mudah?

Dengan begitu, evaluasi supplier menjadi lebih objektif.

Bukan hanya berdasarkan pengalaman terakhir atau perasaan tim procurement.

Gunakan Data untuk Mengetahui Supplier yang Paling Efisien

Kalau bisnis sudah memiliki data pembelian beberapa bulan, sebenarnya cukup banyak insight yang bisa didapatkan.

Misalnya:

  • Supplier A menyumbang 40% total pembelian
  • Supplier B hanya 5%
  • Supplier C memiliki harga rendah tetapi frekuensi pembelian darurat tinggi
  • Supplier D memiliki harga sedikit lebih tinggi tetapi pengiriman konsisten

Dari sini bisnis bisa melihat pola yang sebelumnya tidak terlihat.

Bisa jadi supplier dengan volume pembelian terbesar memang layak mendapatkan perhatian lebih dalam negosiasi.

Atau bisa juga ditemukan kategori produk yang sebenarnya bisa dikonsolidasikan.

Jadi, sebelum mengganti supplier, lihat datanya terlebih dahulu.

Negosiasi Bukan Selalu Tentang Minta Harga Lebih Murah

Ketika volume pembelian mulai meningkat, jangan hanya berpikir:

“Bisa kurang harga lagi nggak?”

Ada banyak hal lain yang bisa dinegosiasikan.

Misalnya:

  • Minimum order
  • Jadwal pengiriman
  • Termin pembayaran
  • Konsistensi stok
  • Harga berdasarkan volume
  • Paket beberapa kategori produk
  • Fleksibilitas order

Supplier juga perlu melihat bisnis sebagai hubungan jangka panjang.

Jika volume pembelian konsisten dan kebutuhan jelas, komunikasi dengan supplier biasanya menjadi lebih mudah.

Karena itu, hubungan supplier yang baik bukan hanya soal mendapatkan harga termurah, tetapi menciptakan pola kerja yang saling menguntungkan.

Kapan Bisnis Perlu Mempertimbangkan One-Stop Supplier?

Semakin banyak kebutuhan bisnis, semakin besar pula peluang untuk menyederhanakan pengadaan.

Misalnya bisnis membutuhkan frozen food, sauce, dairy, beverages, dan berbagai kebutuhan dapur.

Kalau semua harus dicari dari supplier berbeda, tim perlu mengelola banyak jalur pembelian.

Namun jika ada supplier F&B Bali yang mampu memenuhi beberapa kebutuhan tersebut sekaligus, bisnis dapat mengevaluasi apakah sebagian pembelian bisa dialihkan ke satu supplier.

Keuntungannya bukan hanya soal harga.

Proses order bisa lebih sederhana.

Komunikasi lebih terpusat.

Pengiriman lebih mudah dijadwalkan.

Administrasi juga berpotensi lebih ringan.

Tetap, keputusan tersebut perlu berdasarkan kebutuhan aktual bisnis.

Tujuan Akhirnya Bukan Supplier Lebih Sedikit

Ini poin penting.

Tujuan mengontrol biaya pengadaan bukan sekadar mengurangi jumlah supplier.

Tujuannya adalah membuat proses pengadaan menjadi lebih efisien, terukur, dan mudah dikontrol.

Kalau bisnis membutuhkan lima supplier untuk menjaga operasional tetap aman, maka lima supplier bisa saja menjadi pilihan yang masuk akal.

Sebaliknya, jika sebenarnya sepuluh supplier bisa disederhanakan menjadi empat tanpa mengganggu ketersediaan produk, ada peluang untuk membuat proses procurement lebih efisien.

Jadi, bukan tentang:

“Supplier harus sesedikit mungkin.”

Tetapi:

“Setiap supplier harus punya alasan yang jelas.”

Kesimpulan

Mengontrol biaya pengadaan bisnis F&B tidak cukup dengan mencari supplier yang menawarkan harga paling murah.

Bisnis perlu melihat gambaran yang lebih besar: harga produk, ongkos kirim, minimum order, frekuensi pembelian, lead time, ketersediaan stok, sampai risiko pembelian darurat.

Dari sana, bisnis bisa mulai mengelompokkan kebutuhan, mengevaluasi supplier, melakukan konsolidasi jika memungkinkan, dan tetap memiliki alternatif untuk produk-produk yang kritis.

Karena ketika bisnis semakin besar, pengadaan bukan lagi sekadar aktivitas membeli barang.

Pengadaan menjadi bagian dari bagaimana bisnis menjaga margin, menjaga stok, dan menjaga operasional tetap berjalan.

Kalau kebutuhan supply sudah mulai semakin banyak, bekerja dengan supplier horeca Bali yang mampu menyediakan berbagai kebutuhan dalam satu ekosistem juga bisa menjadi salah satu cara untuk menyederhanakan proses tersebut.

Untuk kebutuhan B2B atau pembelian grosir, kamu bisa Konsultasi Gratis melalui WhatsApp.

Untuk pembelian kebutuhan tertentu, kamu juga bisa langsung kunjungi Webstore Baiko di baiko.id.

Baca juga: STOP, Jangan Skip Dulu: Stok Menipis, Supplier Belum Balas, Besok Harus Operasional?

FAQ

Apa saja produk HORECA yang bisa dipesan melalui Baiko di Bali?

Baiko menyediakan lebih dari 500 produk untuk kebutuhan operasional HORECA, mulai dari bahan makanan pokok (minyak goreng, tepung, bumbu), minuman (susu UHT, sirup, kopi), snack dan makanan ringan untuk mini bar hotel, hingga produk kebersihan dan sanitasi dapur. Semua tersedia dalam skema pembelian satuan maupun grosir per karton.

Apakah ada minimum order untuk pembelian grosir HORECA di Baiko?

Baiko menyesuaikan minimum order dengan kebutuhan dan skala bisnis masing-masing mitra. Untuk pembelian grosir, tersedia opsi pembelian per dus atau per karton. Tim B2B Baiko siap membantu menghitung kebutuhan dan memberikan penawaran yang sesuai dengan volume usaha kamu.

Berapa lama waktu pengiriman dari Baiko ke lokasi bisnis saya di Bali?

Baiko melayani pengiriman ke seluruh wilayah Bali dengan jadwal pengiriman yang terjadwal dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional bisnis. Untuk wilayah Denpasar dan sekitarnya, pengiriman same-day tersedia. Tim kami akan mengkonfirmasi estimasi waktu pengiriman saat proses pemesanan.

Bagaimana cara mendaftar atau mulai berlangganan sebagai mitra HORECA Baiko?

Prosesnya mudah: hubungi tim B2B Baiko via WhatsApp di 0818-551-866, sampaikan kebutuhan bisnis kamu (jenis usaha, estimasi volume, lokasi pengiriman), dan tim kami akan menyiapkan proposal dan katalog produk yang relevan. Tidak perlu biaya pendaftaran — kamu langsung bisa mulai memesan setelah berkoordinasi dengan tim kami.

Apakah Baiko melayani pengadaan untuk hotel bintang di Bali?

Ya. Baiko telah dipercaya oleh beberapa hotel di Bali, termasuk Prime Plaza Hotel Sanur, Holiday Inn Sanur, Grand Mercure Bali Seminyak, Intercontinental Bali, dan beberapa properti lainnya. Kami siap mendukung kebutuhan pengadaan bahan makanan, minuman, dan produk operasional dapur hotel dalam volume besar dengan konsistensi kualitas dan jadwal pengiriman yang terjaga.

Apakah Baiko bisa menjadi supplier untuk kafe atau restoran skala kecil di Bali?

Tentu. Baiko tidak hanya melayani bisnis besar. Banyak mitra kami adalah kafe independen, restoran lokal, dan cloud kitchen yang baru berkembang. Skema pemesanan Baiko dirancang fleksibel agar bisnis dari semua skala bisa mendapatkan manfaat dari harga grosir dan kemudahan pengadaan online.

Produk apa saja yang tersedia dalam pembelian curah atau jerigen di Baiko?

Produk curah yang tersedia di Baiko antara lain minyak goreng (Sovia Jerigen 18 Liter, Sovia BIB 18 Liter), serta berbagai produk minuman dan bahan masak dalam kemasan volume besar. Untuk kebutuhan curah lainnya, silakan hubungi tim kami — kami dapat mengatur pengadaan khusus sesuai kebutuhan produksi dapur kamu.

Apa bedanya Baiko dengan supplier HORECA konvensional di Bali?

Berbeda dari supplier konvensional yang mengandalkan sales door-to-door dan invoice manual, Baiko mengoperasikan sistem pemesanan online yang terintegrasi. Kamu bisa memesan kapan saja, memantau status pengiriman, dan mengelola riwayat pembelian dalam satu platform. Ini menghemat waktu tim operasional dan mengurangi risiko kesalahan pesanan.

Apakah Baiko bisa menyediakan produk yang tidak tercantum di katalog?

Baiko secara aktif memperluas jaringan produk dan brand yang tersedia di platform. Jika kamu membutuhkan produk tertentu yang belum tercantum, sampaikan ke tim B2B kami. Kami akan berusaha membantu pengadaan atau merekomendasikan alternatif yang sesuai.

Di area mana saja Baiko melayani pengiriman untuk kebutuhan HORECA di Bali?

Baiko melayani pengiriman ke seluruh wilayah Bali, termasuk Denpasar, Seminyak, Kuta, Sanur, Ubud, Tabanan, Gianyar, hingga Nusa Dua. Untuk wilayah terpencil atau di luar Bali, silakan konfirmasikan terlebih dahulu ke tim kami untuk menentukan jadwal dan biaya pengiriman yang sesuai.

Related Posts